News

Senin, 8 Juni 2020 - 18:15 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Aktifitas tambang pasir di Desa Watu Mori, Kec. Rana Mese, Matim. (Foto: Nardi Jaya)

Aktifitas tambang pasir di Desa Watu Mori, Kec. Rana Mese, Matim. (Foto: Nardi Jaya)

Tambang Pasir Liang Leso, Tanpa Amdal

Rana Mese, floreseditorial.com – Kegiatan tambang pasir di Kampung Liang Leso, Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) tanpa mengantongi izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Sebab, luas lahan lokasi tambang pasirnya tidak memenuhi persyaratan amdal. Yang wajib memenuhi amdal, hanya lokasi dengan luas lahan di atas 10 Ha.

Yoseph Ode, salah seorang pemilik tambang pasir di Kampung Liang Leso menyampaikan hal itu, menjawab floreseditorial.com, Senin (8/6/2020). Dia diminta keterangan, terkait berita pengalihfungsian lokasi lahan sawah, menjadi tambang pasir.

Dia menjelaskan, pihaknya telah mengajukan izin operasional tambang pasir seluas 2,5 Ha. Dengan luas sebesar itu, katanya, tidak menggunakan amdal. Sebab, aturan amdal hanya berlaku apabila lahan pertambangan pasir mencapai 10 Ha atau lebih.

Dia menyebutkan, lokasi pertambangan pasir miliknya, menggunakan sistem Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/UPL). Namun, pihaknya enggan komentar ketika wartawan mempersoalkan lokasi miliknya, termasuk lahan yang ditetapkan untuk bantuan sosial persawahan (Kelompok Tani Arjuna), yang diketuai oleh Alm. Kanisius Agung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Donatus Datur, yang dihubungi wartawan per telepon menjelaskan, yang menilai dampak lingkungan terkait tambang pasir Liang Leso adalah kewenangan provinsi. Tetapi, salah satu anggota tim dari kabupaten juga turut dilibatkan, apabila provinsi melakukan penelitian dampak lingkungan.

Sementara, terkait izin UKL/UPL galian tambang pasir di Liang Leso, sudah terpenuhi. Yang belum, kata Dia, tinggal surat izin pemakaian jalan desa.

Diberitakan sebelumnya, salah satu warga berinisial AS, mencium adanya konspirasi antara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Timur dengan pemilik tambang. Pasalnya, keberadaan tambang pasir di Kampung Liang Leso dan Ikong Kilo tersebut, disinyalir adanya mafia, karena telah terjadi alihfungsi lahan.

Selain itu, AS menyebutkan, antara oknum aparat Desa Watu Mori dan pemilik tambang, diduga terjalin hubungan simbiosis mutualisme dan terindikasi adanya praktik korupsi. Hal tersebut dibuktikan keberadaan tambang pasir di Desa Watu Mori yang sudah bertahun-tahun, namun tidak berkontribusi terhadap PADes.

Proyek tambang juga menyebabkan hasil pertanian warga sekitar cendrung menurun, dikarenakan limbah, asap dan debu Asphalt Mixing Plant (AMP). (knj)

Artikel ini telah dibaca 710 kali

Baca Lainnya
x