Sosial

Kamis, 7 Mei 2020 - 16:33 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Celle Kedang anggota Tim Duet TDL-AJL menyerahkan paket sembako pada salah satu warga Desa Lamalera B Kecamatan Wulandoni Kabupaten Lembata, Kamis(07/05/2020). (Foto: Ben Kia Assan)

Celle Kedang anggota Tim Duet TDL-AJL menyerahkan paket sembako pada salah satu warga Desa Lamalera B Kecamatan Wulandoni Kabupaten Lembata, Kamis(07/05/2020). (Foto: Ben Kia Assan)

Pangan Menipis, Duet TDL-AJL Bagi Sembako Bagi Nelayan Lamalera

Floreseditorial.com, Wulandoni – Kolaborasi Komunitas Taman Daun Lembata (TDL) bersama Aliansi Jurnalis Lembata (AJL) membagi sembako bagi nelayan di Desa Lamalera B, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata.

Pembagian sembako berisi beras dan gula pasir ini dilaksanakan pada Kamis siang (07/05/2020) di Desa Lamalera B. Sebanyak 70 Kepala Keluarga (KK) dari Dusun satu dan dua desa tersebut menerima masing-masing lima kg beras dan satu kg gula pasir.

Wartawan floreseditorial.com wilayah Lembata turut terlibat dan membagikan paket sembako kepada warga yang didominasi keluarga nelayan tradisional di Lamalera.

Juru bicara Tim TDL- AJL , Gery Burin, mengatakan bantuan sembako bagi warga nelayan Lamalera diberikan lantaran melihat dampak merosotnya penghasilan dan ketersediaan bahan pangan masyarakat akibat pandemi covid 19.

“Kita kumpul-kumpul dari keterbatasan dan coba membantu di sini ( Lamalera, red). Karena kita amati nelayan disini sedang sulit mendapat bahan makanan. Mereka di sin hanya melaut. Dan hasil lautnya biasanya dibarter dengan bahan makanan dari orang di pedalaman seperti jagung, padi, ubi dan pisang. Tapi karena corona dan protokol pencegahannya, maka mereka tidak bisa bertemu orang gunung (pedalaman-petani, red) untuk barter ikan dengan hasil kebun. Jadi biar sedikit tapi semoga bisa membantu, ” jelas Burin.

Dukungan sembako dari duet TDL-AJL menuai empati dan rasa syukur dari warga penerima. Salah satunya adalah warga RT lima, Dusun dua, Agata Karolina Sura.

” Kami senang dengan bantuan ini. Saat ini ikan juga susah. Kalaupun ada, kami tidak bisa barter. Pasar barter masih tutup karena corona ini. ” ungkap istri Pius Tapoona ini bersemangat.

Sementara itu, Jefri Bataona, warga Desa Lamalera B yang terlibat membantu kegiatan pembagian sembako, mengatakan bantuan ini sangat berarti bagi warga nelayan Lamalera yang sedang dilanda kesulitan bahan makanan.

“Bantuan ini sangat berarti. Saya katakan kepada warga bahwa mereka ( TDL-AJL) adalah anak-anak muda Lembata, ekonominya juga pas-pasan. Namun mereka cari jalan untuk bantu kita. Karena nelayan di sini memang benar-benar kesulitan. Kalaupun dapat ikan, mau tukar di mana. Nelayan sudah biasa barter ikan dengan hasil pertanian. Orang di Boto, Puor dan Atadei sana bawa ubi-pisang dan tukar. Tapi corona ini, orang tidak bebas keluar masuk desa. Masuk keluar desa lain juga setengah mati, ” jelas Bataona.

Lebih lanjut, alumnus FKIP Bahasa Inggris Unwira Kupang ini, menuturkan nelayan Lamalera sulit mendapat bahan makanam dari pertanian karena sulitnya lahan pertanian.

” Kampung pesisir Lamalera. Di pesisir lain, nelayan juga punya lahan kebun. Jadi mereka bisa bertani. Di Lamalera mau tanam di mana. Kampung penuh batu-batu besar” tambahnya.

Barter hasil laut dan hasil pertanian, telah sekian tahun menjadi alasan interaksi sosial warga Kampung Lamalera dan warga pedalaman Lembata melalui mekanisme barter. Namun pembatasan sosial dan jarak fisik sebagai langkah cegah corona, terpaksa barter harus ditunda. Stok pangan terus menipis. Baik Jefri, Agatha dan semua nelayan pasti berharap, corona segeralah berlalu.

Penulis: Bemediktus Kia Assan
Editor : Kanis Lina Bana

Artikel ini telah dibaca 544 kali

Baca Lainnya
x