News

Selasa, 25 Februari 2020 - 14:44 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Kondisi gedung sekolah dasar Negeri (SDN) Rampasasa di desa Wae Mulu, kecamatan Wae Ri'i, Siswa harus belajar dalam ruangan kelas penuh lumpur (Foto: TeamYPF/Adrian Juru)

Kondisi gedung sekolah dasar Negeri (SDN) Rampasasa di desa Wae Mulu, kecamatan Wae Ri'i, Siswa harus belajar dalam ruangan kelas penuh lumpur (Foto: TeamYPF/Adrian Juru)

Potret Buruk Wajah Dunia Pendidikan di Kabupaten Manggarai, Siswa Belajar di Ruang Kelas Berlumpur

Floreseditorial.com, Ruteng –
Tidak seriusnya perhatian pemerintahan Deno Kamelus – Viktor Madur terhadap dunia pendidikan di kabupaten Manggarai semakin terlihat jelas. Hal ini tergambar dari Kondisi gedung sekolah dasar Negeri (SDN) Rampasasa di desa Wae Mulu, kecamatan Wae Ri’i kabupaten Manggarai kondisinya sangat miris dan tak layak pakai.

Anak – anak bahkan harus belajar di ruangan kelas yang tidak berdinding dan berlantai tanah bahkan di saat musim hujan, airpun tergenang di dalam ruangan belajar anak-anak.

Sekolah ini berdiri pada tahun 2015 lalu dengan status tambahan ruangan kelas (TRK) dari Sekolah Dasar Inpres (SDI ) Welong, kecamatan Wae Ri’i, kabupaten Manggarai. Namun sejak 2019 lalu sekolah tersebut sudah didefenitif oleh pemerintah kabupaten Manggarai menjadi UPTD Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rampasa.

Pantauan langsung oleh tim Floreseditorial.com pada hari Senin (24/02/2020) anak-anak SDN Rampasasa tetap semangat menjalankan proses belajar mengajar di dalam ruangan kelas yang reyot dan bahkan tergenang air dan lantai tanah penuh lumpur.

Gedung sekolah UPTD SDN Rampasasa ini terletak sekitar 700 meter dari kampung Rampasasa yang dibangun dengan swadaya masyarakat sehingga dibuat seadanya saja. Ruangan belajar anak-anak berjumlah 4 ruangan, itupun salah satu ruangannya harus bergantian masuk antara kelas 1 dan 2. Jumlah murid UPTD SDN Rampasasa ada 66 orang.

Saat diwawancarai media ini salah satu murid kelas lima (5) bernama Viktoria Felisia Jeninut meminta agar sekolahnya itu diperhatikan oleh pemerintah. Dengan muka yang polos Viktoria mengatakan jika musim hujan tiba mereka harus belajar di dalam ruangan yang masih tergenang air di lantai kelasnya.

“Kami hanya berharap agar sekolah kami diperhatikan supaya seperti sekolah-sekolah lainnya. Kami tetap belajar di dalam kelas walaupun di bawah kaki kami masih tergenang air,” cerita anak kelas 5 itu kepada tim media ini, Senin (24/02/2020).

Anak yang bercita-cita jadi Polisi wanita (Polwan) itu juga mengeluh karena kondisi jalan menuju sekolahnya masih jalan bebatuan dan berjalan di hutan.

“Kami berharap juga jalannya diperhatikan. Kami jalan sangat jauh dan jalan di dalam hutan begini,” ungkapnya.

Selain Viktoria, salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut bernama Matilda kurniati menceritakan bahwa dirinyapun sangat sulit untuk datang mengajar ke sekolah tersebut karena kondisi jalan yang tidak bagus. Matilda menceritakan dirinya pergi mengajar di sekolah tersebut dengan melewati jalan tikus di dalam perkebunan warga.

“Yang paling sulit tentunya jalan. Kami merasa kesulitan karena jalan yang belum bagus, kamipun lintas di dalam perkebunan warga atau jalan tikus. Kami juga kasian melihat anak-anak datang sekolah karena sepatu mereka kadang cepat rusak karena melitasi jalan yang tidak baik,” kata Matilda, Senin (24/02/2020).

Matilda juga mengatakan siswanya terkadang merasa terganggu dengan kondisi ruangannya yang tergenang air bahkan berlumpur. Menurutnya anak-anak tidak konsentrasi mendengarkan mata pelajaran dengan baik karena kondisi ruangan yang serba sulit.

“Sering anak-anak kalau masih tergelang air begini mereka tidak konsen belajar. Lihat saja jika air dan lumpur begini di dalam ruangan. Sehingga besar harapan kami di sini semoga kami diperhatikan agar bisa belajar dengan baik layaknya seperti sekolah-sekolah lainnya,” ujar Matilda kepada Floreseditorial.com, Senin (24/02/2020).

Diwawancara terpisah kepada UPTD SDN Rampasasa Stefanus Jedaut berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan sarana dan prasaran di SDN Rampasasa.

“Jadi ada banyak harapan dari kami di sini. Tolong perhatikan kami, kebutuhan kami yang ada di SDN Rampasasa ini baik dari gedung maupun sarana dan prasarana lainya, kemudian air dan jalan rayanya. Memang ini sekolah baru yang butu perhatian ekstra dari pemerintah pusat dan daerah,” Kata Stefanus.

Laporan: Adrian Juru

Artikel ini telah dibaca 2768 kali

Baca Lainnya
x