Politik

Rabu, 5 Februari 2020 - 10:09 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Maksimilianus Kolbey (Foto: TeamYPF/Adrian Juru)

Maksimilianus Kolbey (Foto: TeamYPF/Adrian Juru)

Pegawai RSUD Ben Mboi Diintimidasi Agar Pilih Balon Petahana

Floreseditorial.com, Ruteng – Sekretaris rumah sakit umum daerah (RSUD) Ben Mboi Ruteng Maksimilianus Kolbey diduga mengintimidasi pegawainya agar memilih pasangan Bakal Calon (Balon) Deno Kamelus Dan Viktor Madur saat pemilihan Bupati dan wakil bupati Kabupaten Manggarai saat pilkada mendatang.

Salah seorang pegawai rumah sakit yang berprofesi sebagai bidan dipanggil oleh Maksimilianus dan ditegur lantaran dia menduga pegawainya itu tidak mendukung bakal calon Bupati petahana.

Berdasar rekaman yang diperoleh media ini, terdengar Sekertaris Rumah sakit Ben Mboi Ruteng itu memarahi MIN (24) dan memaksa bawahannya itu untuk mendukung Pasangan Deno Kamelus – Viktor Madur Pada Pilkada mendatang.

Maksimilianus sektretaris RSUD Ben Mboi memarahi MIN (24) lantaran suaminya memposting akronim H²N yang merupakan akronim Pasangan Heri Nabit – Heri Ngabut, salah satu pasangan bakal calon Bupati Manggarai.

Dari rekaman itu, Mili mengatakan bahwa Bupati Deno merasa tersinggung dengan postingan H2N yang diunggah suami anak buahnya itu.

Ia juga mengatakan jika saja nanti Bupati Deno menyuruhnya untuk mengeluarkan IK dari tempat kerjanya (Rumah sakit Ben Mboi) makanya dirinya akan mengikuti perintah tersebut.

Berkali-kali Mili menanyakan kepada MIN (24), kenapa suaminya harus berbuat demikian. Sebab menurut Mili postingan dari CC (suami MIN) membuat Bupati marah.

“Bagaimna keadan di rumah? Bagaimna keadan pilkada dirumah kamu? Maksud dari status H²N suami kamu itu apa? Karena Minggu lalu saya di telfon kraeng tu’a (Bupati Deno) dia tanya kamu dan bilang kamu kasih keluar saja dia dari rumah sakit,” cakap Mili dalam rekaman yang diterima oleh media ini.

“Kalau sudah pulang ke rumah sebentar tugas kamu ajak kembali suami (CC) dan bapak untuk kembali dukung DM (Deno-Madur),” tambahnya.

Ketika wartawan mendatangi Mili untuk menanyakan persoalan tersebut. Dirinya membantah dan mengatakan semua itu adalah gosip. Menurut Mili ia memanggil MIN (24) hanya untuk briefing terkait dengan pekerjaannya.

“Itu tidak benar. Memang kemarin ada gosip-gosip begitu. Kami kemarin panggil rekan kerja yang bersangkutan itu hanya untuk briefing. Saya tidak singgung terkait dengan calon bupati tertentu,” kata Mili, Rabu (05/2/2020).

Mili mengakui bahwa dirinya sudah memindahkan MIN (24) dari bagian teknis ke bagian manajemen. Menurutnya menempatkan pegawai tidak sesuai besic itu tidak masalah.

“Hasil musyawara mufakat, kami pindahkan yang bersangkutan dari bagian teknis dan sekarang di bagian manajemen. Lagian bukan hanya dia yang ditempatkan tidak sesuai basicnya. Ada juga kepala bagian disini yang begitu,” jelas Mili kepada wartawan.

Hal tersebut ditanggapi oleh sekertaris daerah (Sekda) kabupaten Manggarai Fansy Jahang, mengatakan hal tersebut sebenarnya tidak boleh terjadi. Pasalnya ANS, THL, Honorer adalah digaji oleh APBD. Maka dengan demikian ASN harus menjaga netralitas dalam tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada).

“Memang kami sudah mendapatkan surat dari kementrian dalam negeri dan Bawaslu tentang netralitas ASN dalam kontestasi pilkada 2020. Secepatnya kami akan mengeluarkan surat edaran terkait dengan netralitas ASN,” Tegas Fansy saat ditemui media ini Rabu (05/2/2020).

“Pegawai negeri sipil itu terdiri dari ASN itu sendiri, pegawai kontrak, tenaga harian lepas, tenaga pendukung. Mereka ini adalah di biaya negara yang digaji oleh daerah. Mereka mempunyai tugas untuk menyukseskan pembangunan di daerah ini. Saya akan memanggil yang bersangkutan,” tutupnya.

Terkait hal ini, Bawaslu Kabupaten Manggarai belum memberikan tanggapan.

Laporan : Adrian Juru

Artikel ini telah dibaca 1506 kali

Baca Lainnya
x