News

Kamis, 5 Desember 2019 - 03:05 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Potret pembantaian anjing di Kelurahan Kota Ndora, kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Ist)

Potret pembantaian anjing di Kelurahan Kota Ndora, kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Ist)

Warga Kecam Aparat di NTT Lakukan Operasi Pembantaian Anjing

Floreseditorial.com, Borong – Atas dalih menangani wabah rabies, pemerintah daerah kabupaten Manggarai Timur melakukan pembantaian massal anjing. Warga penyayang binatang menyebut operasi tersebut sangat kejam.

Pemerintah daerah kabupaten Manggarai Timur dikabarkan membentuk tim pengendalian virus rabies dengan membunuh anjing di sejumlah wilayah secara membabibuta.

Operasi anti-rabies itu didampingi oleh petugas dengan membunuh anjing peliharaan yang mereka tangkap tanpa seizin pemilik.

Aparat semakin gencar melancarkan programnya pada akhir 2019.

“Sejumlah tim datang membunuh anjing peliharaan tanpa seizin pemiliknya, padahal beberapa anjing itu masih menyusui anaknya, kata warga yang enggan namanya dimediakan, Kamis (05/12/2019).

Menurutnya mereka beranggotakan beberapa orang yang dibagi menjadi beberapa tim.

Potret pembantaian anjing di Kelurahan Kota Nndora, kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur itu pun viral di media sosial.

Beberapa warga pun menyampaikan kekesalannya kepada petugas yang secara sadis dan membabi buta telah membantai anjing peliharaan tersebut termasuk anjing yang tengah menyusui anaknya.

Itok Aman, salah seorang warganet melalui postingan facebooknya menjelaskan bahwa melihat gambar anjing yang kepalanya dipenggal sedang anak-anak anjing itu masih menyusui walau induknya sudah mati, di situ kita patut pertanyakan kinerja Pemda Manggarai Timur dan Dinas terkait.

“Isunya tentang bahaya rabies, dengan demikian anjing-anjing dibasmi. Analoginya begini; pintu rumah sedang terkunci, jendelanya terbuka, kita malas mengetuk pintu, yang ada hanya loncat masuk lewat jendela, padahal ada tuan rumah di dalamnya. Apa salahnya kita panggil sambil menunggu pintu dibuka?,” tulisnya.

Apa salahnya sosialisasi dulu tentang bahaya rabies? Apa salahnya beri peringatan dulu kepada masyarakat? Apa salahnya divaksin saja? Atau, kita mau jawab, pemerintah sudah sosialisasikan semua hal berkaitan dengan kasus rabies, namun masyarakat tidak mengindahkannya. Eleeeeeh alasan!

“Kami jual anjing itu untuk biaya hidup, untuk jaga rumah, ada juga uangnya yang lain kami pakai bayar pajak untuk gaji kalian. Jangan terlalu brutal. Nanti kita sulit bedakan yang mana anjing yang mana manusia…!!!,” tulisnya.

Sementara pakar hukum dr.Laurentius Ni kepada media ini menjelaskan bahwa pemilik hewan tersebut diharapkan untuk segera melapor kepada pihak berwajib.

“Ada pasal 302 dan Pasal 406 KUHP yang bisa menjerat pelaku,” tutup Laurentius.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 5400 kali

Baca Lainnya
x