Travel

Selasa, 26 November 2019 - 03:50 WIB

2 tahun yang lalu

logo

kapal pesiar asal Jerman, Aida Vita (Ist)

kapal pesiar asal Jerman, Aida Vita (Ist)

Mampir di Kawasan TNK, Kehadiran Kapal Pesiar Aida Vita Tak Berdampak Pada Ekonomi Warga Kampung Komodo

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Kunjungan kapal pesiar asal Jerman, Aida Vita pada Minggu (23/11/2019) disekitar Wilayah taman Nasional Komodo, rupanya tidak berdampak bagi para pengrajin souvenir di kampung Komodo Kabupaten Manggarai Barat.

Kehadiran kapal pesiar asal Jerman ini justru mengisahkan luka bagi pengrajin souvenir kampung komodo.

Informasi yang dihimpun media dari beberapa pengrajin di kawasan tersebut menjelaskan bahwa kehadiran kapal yang membawa lebih dari 1200 wisatawan di kawasan taman Nasional Komodo tidak berdampak bagi masyarakat sekitar kawasan tersebut.

Wisatawan Asal Jerman yang datang dengan Kapal Pesiar Aida Vita saat mengunjungi kawasan Pink Beach pada Minggu (24/11/201).

Beberapa di antaranya menjelaskan bahwa kehadiran kapal istimewa Itu justru tidak memberi kontribusi positif bagi para pengrajin pengrajin lokal yang ada di sekitar kawasan taman Nasional Komodo.

“Mereka datang hanya lihat-lihat, kerajinan kami disini lalu pergi meninggalkan kami dan langsung melanjutkan perjalanan mereka ke loh liang dan pink Beach,” kata Asis seorang pengrajin asal kampung Komodo pada media ini Senin (25/11/ 2019).

Senada disampaikan pula oleh Astuti yang menyebutkan bahwa kehadiran wisatawan di kawasan tersebut tidak memberi kontribusi apa-apa bagi para pengrajin yang ada di sekitar kawasan taman Nasional Komodo.

“Kehadiran 1.200 orang itu sama sekali tidak berkontribusi terhadap usaha kami. Dari sekian banyaknya tamu, tak satupun yang membeli kerjinan kami karena mereka datang langsung di Loh Liang dan Pink beach, tidak singgah di tempat souvenir”, tambah Astuti.

Menurut mereka jika Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) tidak mengatur regulasi yang baik agar para tamu ini bisa berbelanja souvenir di kawasan tersebut maka berpotensi akan mematikan usaha kerajinan para pengrajin lokal yang berjualan di sekitar tempat tersebut.

“Jika sistem seperti itu terus dibiarkan maka akan berpotensi mematikan usaha kerjinan karena BTNK tidak mengatur jalur masuk kunjungan wisatawan, untuk apa datang kesini kalau tak memberi keuntungan bagi kami warga asli disini,” tuturnya.

Pihaknya berharap agar pemerintah bisa mengatur regulasi yang baik sehingga kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut bisa memberi dampak ekonomi positif bagi para pengrajin dan para pelaku industri kecil dan menengah (UKM) yang berada di sekitar taman Nasional Komodo

“Ini tanggal 29 november akan ada lahi satu kapal besar masuk yang membawa 2.000 tamu. Semoga kali ini merela mau singgah dan membeli souvenir hasil kerajinan kami”, tutupnya.

Laporan : IDE

Artikel ini telah dibaca 1159 kali

Baca Lainnya
x