Hukrim

Kamis, 7 November 2019 - 13:30 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Robertus Hani saat diinterogasi pihak kepolisian (Foto: TeamYPF/IDE)

Robertus Hani saat diinterogasi pihak kepolisian (Foto: TeamYPF/IDE)

Guru Palaku Pelecehan Seksual Pada Siswi Sekolah Dasar di Mabar Ditahan

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Robertus Hani, oknum guru terduga pelaku pelecehan terhadap siswinya sendiri yang masih berada di kelas IV SD diamankan aparat kepolisian Polres Manggarai Barat pada kamis (7/11/2019).

Robertus Hani ditahan atas laporan orangtua siswa yang menjadi korban pelecehan seksual oleh Robertus Hani tersebut pada Senin (4/11/2019) lalu dengan nomor surat tanda penerimaan laporan STPL/ 147/ XI /2019/ NTT/ Res Mabar.

Pelaku ditangkap di rumahnya, Kamis (7/11/2019) tanpa perlawanan.

“Kami sudah menerima informasi dan laporan dari keluarga korban.  Kami juga sudah meminta keterangan dari saksi-saksi termasuk saksi yang melihat langsung peristiwa tersebut yakni dengan cara mengintip dari lubang yang ada di dinding sekolah,” kata Kapolres Manggarai Barat AKBP Julisa Kusumowardono.

Kata dia, pihaknya langsung mengambil langkah untuk mengamankan yang bersangkutan.

“Saat ini yang bersangkutan sudah berada di Polres Manggarai Barat,” jelas AKBP Julisa Kusumowardono.

Menurut Julisa, yang bersangkutan dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap pasal 82 UU No 17 tahun 2016, tentang penetapan peraturan pengganti UU No 1 perubahan 1 UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Pada ayat 1: Ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun dengan denda Rp 15 miliar. Pada ayat 2, ancaman hukuman ditambah 1/3 dari ayat 1 mengingat pelaku merupakan tenaga pendidik di SD di Kecamatan Macang Pacar,” beber Kapolres Mabar tersebut.

Sementara itu, kapolsek Bari, Iptu Muhamad Eko membantah informasi keterlibatan dia dan anggotanya dalam penyelesaian secara adat kasus tersebut. Ia beranggapan itu hanya salah paham yang terjadi diantara keluarga korban.

“Bagaimana kami mau bicara negosiasi, saya gak bisa bahasa Manggarai, ibu korban juga tidak bisa berbahasa Indonesia. Kami tidak ada niat begitu, jelas kami konsisten membawa persoalan ini ke ranah hukum”, terangnya.

Laporan : IDE

Artikel ini telah dibaca 3444 kali

Baca Lainnya
x