News

Selasa, 5 November 2019 - 00:20 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Guru Pedofilia di NTT, Pelecehan Dilakukan di Jam-Jam Pelajaran

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur yang menimpa ASP, seorang siswi di SDN Munting Renggeng, kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat kini tengah ditangani oleh pihak kepolisian resort Manggarai Barat dengan nomor surat tanda penerimaan laporan STPL / 147 / XI / 2019 /NTT / Res Mabar.

Menanggapi laporan keluarga korban pelecehan, Kapolres Mabar, AKBP Julisa Kusumowardono SIK menyatakan akan menindak tegas pelaku sesuai perundang-undangan yang berlaku.

“Kita tindak tegas pelaku kasus pelecehan seperti ini. Tidak ada kata damai, tidak ada negosiasi”,tegasnya saat ditemui floreseditorial.com di ruangan kapolres Mabar pada Senin (4/11/2019).

Dia melanjutkan, Kasus pelecehan anak seperti ini harus diteruskan dan diberi hukuman setimpal kepada pelaku agar tidak mengancam keamanan anak-anak lain.

“Yang pasti, minggu ini kita akan memanggil dan menahan pelaku. Penahanan pelaku supaya tidak terjadi hal serupa kepada siswi lain. Karena itu merupakan bawaan penyakit dan ada potensi untuk mencabul lagi sehingga kita mengambil langkah preventif”, tandasnya.

Untuk diketahui, korban pelecehan seksual tersebut merupakan seorang siswi kelas IV SD yang berusia 8 tahun. Pelakunya adalah RH, seorang guru komite ditempat ASP menimba Ilmu.

Dalam kronologis yang diceritakn oleh korban ASP bahwa tindakan asusila tersebut telah terjadi sejak setahun lalu ketika korban berada di kelas tiga.

“Sewaktu kelas tiga sebanyak enam kali sedangkan di kelas empat hampir setiap hari jika saya ke sekolah”, ceritanya.

Meski mendapatkan perlakuan tak adil dari RH gurunya, ASP enggan menceritakan itu ke orang tua karena ia mendapat ancaman keras dari RH.

“Dia bilang (red.RH), kalau kamu lapor orang tua, atau melaporkan ke teman-teman maka engkau dan orang tuamu akan kubunuh dan membuamg mayat kalian kesungai”,tambahnya.

Mendengar ancaman tersebut, korban ASP tidak berani menceritakan tingkah laku sang guru.

Adapun jenis pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru tersebut dengan cara meraba kelamin korban, memasukan penis RH kemulut ASP dan beberap hal tindakan keji lainya.

Sementara itu, orang tua korban menyampaikan kepada awak media tentang perubahan sikap putri sulung sekaligus putri tunggalnya itu sejak berada di bangku kelas tiga.

“Putri saya ini dulunya periang, rajin ke gereja dan sangat aktif. Tetapi akhir-akhir ini, ketika pulang sekolah dia selalu murung dan ingin sendiri”,terang ibunya yang seorang single parent ini sambil menitikan air mata.

Dia menambahkan, bahwa putrinya bahkan tidak pernah mau makan ketika pulang sekolah. Kalaupun pergi sekolah di pagi hari, sepanjang jalan(kebetulan jalan menuju sekolah melewati rumah pelaku) selalu berteriak.

“Saya heran, setiap pulang sekolah dia selalu muntah. Merengek untuk mencarikan buah jambu atau buah nanas. Selain itu, tidak ada yang mai dia makan”, tambahnya.

Peristiwa pelecehan anak ini terungkap pada 12 September 2019 lalu. Namun pada 4 november 2019 baru ada laporan dari pihak korban karena sebelumnya ada upaya dari keluarga pelaku untuk menggagalkan laporan kelurga korban ke polres Mabar.

“Selaku ibunya ASP, saya tidak akan membiarkan anak saya jadi korban. Saya harus menuntut keadilan. Saya tidal akan mau disogok oleh banyaknya uang mereka. Tidak akan!!”, tegas KJ.

Laporan : IDE

Artikel ini telah dibaca 3575 kali

Baca Lainnya
x