News

Sabtu, 26 Oktober 2019 - 04:47 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Ilustrasi (TeamYPF)

Ilustrasi (TeamYPF)

Mahasiswi di Ruteng Buang Bayi, Psikolog: Jangan sampai Kebijakan Kita Justru Berkontribusi Bagi Bertumbuhnya Kasus Seperti ini

Floreseditorial.com, Ruteng – Peristiwa pembuangan bayi yang diduga dilakukan oleh SA, seorang mahasiswi di salah satu Universitas di Ruteng Kabupaten Manggarai yang berasal dari Mbeling, kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur sontak menjadi perhatian sejumlah kalangan.

Menurut data yang diperoleh dari pihak kepolisian  Petugas Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta Lurah Watu, polisi telah mengamankan seorang perempuan  berinisial SA, yang  diduga adalah ibu sekaligus Pelaku pembuangan bayi tersebut.

Jefrin haryanto,Mpsi, seorang psikolog dan konsultan publik saat dimintai tanggapannya oleh media ini menjelaskan bahwa Keputusan salah seperti itu bisa terjadi dalam hitungan detik, menit, hari bahkan berbulan-bulan.

“Boleh jadi pelaku mengalami fase krisis yang akut dalam mengambil keputusan, atau dalam kondisi tertekan,” kata Jefrin.

Secara moral, kata Jefrin, tentu kita menghardik kekeliruan pelaku, tapi tentu juga kita harus menyisahkan ruang untuk prespektif sebagai korban. Jika pelaku punya pilihan bebas, pasti dia tidak akan melakukan itu. Ada rasionalitas yang panik, karena pelaku mengalami kebingungan.

“Saya berkeyakinan pelaku akan menyembunyikan siapa ayah dari bayi malang ini, karena beberapa alasan, pertama, pelaku tidak menyukai hubungan ini, kedua, boleh jadi suaminya bukan laki-laki yang bebas, bisa suami orang, bisa keluarga dekat, bisa juga orang yang sangat terhormat karena posisi dan profesinya, ketiga, karena takut sangsi dari kampus,” kata Jefrin.

Pendampingan psikologis bagi pelaku sekaligus korban ini adalah hal yang paling mendesak untuk dilakukan.

“Selain pada proses hukum fokus juga paling penting adalah pada proses recovery psikologis ibu anak ini,” tuturnya.

Ia berkeyakinan pelaku tidak ingin membunuh, dia hanya ingin keluar dari masalahnya, hanya caranya yang keliru diambil.

“Dari semua hal ini, kita perlu juga mengevaluasi seluruh kebijakan publik kita. Jangan sampai kebijakan publik kita justru berkontribusi bagi bertumbuhnya kasus-kasus seperti ini termasuk kebijakan Internal kampus. Jika itu alasannya, kampus juga harus melihat kembali Kebijakan – kebijakannya,” ungkap Jefrin Haryanto.

Jefrin mengajak agar semua pihak
Untuk berhenti menghardik dan lebih baik berefleksi tentang situasi ini.

“Daripada kita menghardik gelap, lebih baik nyalahkan lilin biar menjadi terang,” tutup Jefrin

Laporan : Adrianus Paju

Artikel ini telah dibaca 539 kali

Baca Lainnya
x